Tertawa Bisa Menyehatkan Tempat Kerja

Tahukah Anda bahwa suasana yang penuh canda dan tawa bisa mendatangkan pengaruh positif di tempat kerja? Dan, sudahkah Anda menyadari bahwa suasana tempat kerja yang “ramai” seperti itu merupakan tuntutan karyawan dari generasi milenial saat ini, yang menginginkan kantor yang supportive dan fun?

Kenyamanan di tempat kerja merupakan isu yang serius. Siapa mau bekerja di tempat yang membuat orang stres? Untuk itu, organisasi perlu terus-menerus meningkatkan upaya menciptakan lingkungan (tempat) kerja yang menyenangkan, sehat dan produktif.

Kolumnis David Granirer yang telah melakukan presentasi “tertawa di tempat kerja” di ratusan organisasi di Amerika menganjurkan, “Hidupkan tempat kerjamu dengan tawa!”. Umumnya organisasi menganggap “tertawa di tempat kerja” bukankah ide yang bagus, dan melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang kontra produktif. “Tertawa selalu dipertentangkan dengan kerja,” ujar Granirer.

“Kita terbiasa mendengar ungkapan-ungkapan seperti ‘no pain, no gain‘ atau ‘bekerja bukan untuk bersenang-senang’,” tambah dia.

Namun, menurut Granirer, dewasa ini kalangan dunia usaha mulai menyadari bahwa ungkapan-ungkapan seperti itu cenderung menjadi beban. “Di era perubahaan sekarang ini, ajaran-ajaran seperti itulah yang justru kontra produktif.”

Granier mengutip riset yang dilakukan sebuah lembaga keuangan di Kanada yang menemukan bahwa para manajer yang mampu memfasilitasi kinerja karyawan hingga level tertinggi adalah mereka yang paling sering menggunakan humor. “Data-data ilmiah juga membuktikan bahwa tertawa merupakan bagian integral dari kenyamanan fisik,” ungkap dia.

Kendati demikian, Granirer mengingatkan, kapan saat yang tepat karyawan memerlukan humor. Granirer lalu mengutip psikolog dari Universitas St. Thomas, Thomas Kuhlman yang menyebut dua indikator khusus yang menandai bahwa sebuah perusahaan memerlukan humor.

Pertama, ketika perusahaan berada dalam situasi-situasi yang tidak menguntungkan. “Misalnya, perusahaan harus menyelesaikan proyek tertentu tapi sumber-sumber daya tak mencukupi, atau ketika ada permintaan yang sulit dari klien atau bos, atau dihadapkan pada regulasi yang tidak populer,” papar Granirer.

Kedua, adanya tekanan-tekanan yang tak terprediksi atau tak terkontrol. Misalnya, jadwal yang padat atau beban kerja yang melimpah.

“Dalam situasi-situasi di mana kita hanya memiliki kontrol yang kecil atau tidak sama sekali terhadap keadaan di luar, satu-satunya kontrol terletak pada bagaimana kita bereaksi terhadapnya. Kita bisa memilih, tertawa atau putus asa,” tutur Granirer.

Dalam banyak hal, demikian Granirer, tertawa adalah satu-satunya respon yang rasional untuk tetap bertahan. “Bisa tertawa terhadap diri sendiri dan situasi yang dihadapi akan membantu kita menurunkan tekanan, mendapatkan kembali perspektif kita dan menerima apa yang memang tidak bisa kita ubah.”

“Tidak hanya itu, tertawa juga memberi kita energi dan kegembiraan yang kita perlukan untuk bertahan,” tambah Granirer.

 source : portalHR.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: